Sumatra Barat termasuk kawasan rawan gempa bumi disebabkan letaknya di pantai barat Sumatra yang secara tektonik berada berdekatan dengan zona subduksi (subduction zone), yaitu zona pertemuan/perbatasan antara 2 lempeng tektonik berupa penunjaman lempeng India-Australia ke bawah lempeng Eurasia. Pergerakan lempeng-lempeng ini akan menyebabkan gempa yang tak jarang berkekuatan besar. Selain itu, Patahan Besar Sumatra (Sumatra great fault) yang masih aktif akan selalu pula mengancam kawasan itu apabila terjadi pergeseran di zona patahan tersebut. Ditambah pula, aktivitas gunung berapi yang masih aktif, misalnya Marapi, Tandikat, dan Talang dapat menimbulkan getaran yang cukup kuat. Antara zona subduksi, Sesar Sumatra, dan gunung-gunung berapi aktif ini saling berkaitan dan mempengaruhi. Oleh karena itu, Sumbar bukan hanya rawan terhadap bencana gempa, namun juga bencana lain yaitu letusan gunung berapi, tsunami, bahkan tanah longsor (akibat getaran gempa).
Oleh sebab posisinya yang “dikepung” oleh
sumber-sumber gempa , maka Sumbar menjadi daerah yang sering terkena
(baca: rawan) bencana ini. Beberapa gempa di Sumbar tidak terjadi sekali
getaran saja, tapi dapat berulang-ulang seperti serangkaian gempa yang
pernah mengguncang Sumbar, gempa susulan akan mengguncang beberapa kali
dalam waktu dekat . Bahkan di Sumbar sering terjadi gempa besar yang
getarannya dapat pula dirasakan hingga ke propinsi tetangga seperti
Riau, Kepulauan Riau (Kepri), dan Jambi, bahkan hingga ke negara
tetangga yaitu Singapura dan Malaysia (kawasan Semenanjung) . Sementara
daerah-daerah yang termasuk ke dalam kawasan pantai timur Sumatra,
seperti Riau dan Sumatra Selatan, tidak berada di dekat pusat gempa
sehingga relatif aman dari aktivitas gempa yang kuat. Daerah-daerah yang
berada di pantai timur Sumatra hanya menerima getaran dari gelombang
seismik yang berasal dari pusat gempa di pantai barat.
Sumber Gempa Sumbar:1). Zona subduksi antara lempeng India-Australia dan lempeng Sunda/lempeng Eurasia (lempeng Sunda adalah bagian dari lempeng Eurasia, terutama yang meliputi kawasan Asia Tenggara) yang membentuk Palung Sunda (Sunda trench) sepanjang sekitar 1.300 km memanjang di laut lepas Samudra Hindia dan relatif sejajar dengan garis pantai sebelah barat Sumatra. Lempeng Eurasia merupakan lempeng benua, sedangkan lempeng India-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia merupakan lempeng samudera. Lempeng samudera yang memiliki rapat massa yang lebih besar ketika bertumbukan dengan lempeng benua akan menyusup/menunjam ke bawah lempeng benua membentuk zona penunjaman (subduksi). Gerakan lempeng ini adalah perlahan-lahan akibat gesekan di dalam bumi dan menyebabkan penumpukkan energi di zona subduksi. Pada saat batas elastisitas lempeng terlampaui, maka terjadilah pelepasan energi secara tiba-tiba dalam bentuk gelombang gempa. Model gempa di zona subduksi kawasan Sumbar dapat dilihat gambar dibawah:
Zona subduksi dapat dibagi menjadi
beberapa segmen berdasarkan perubahan kondisi geologi dan sejarah gempa.
Zona subduksi di sepanjang Sumatra terdiri dari beberapa segmen,
seperti segmen Aceh, segmen Simeulue-Nias, segmen Mentawai dan segmen
Bengkulu. Khusus untuk gempa di Sumbar, biasanya disebabkan oleh
pergerakan lempeng di segmen Mentawai yang terletak di
lepas pantai sebelah barat Kepulauan Mentawai. Segmen ini berpotensi
untuk menghasilkan gempa besar dengan kekuatan hingga M9. Dikarenakan
sumber gempa ini berada di dasar laut, maka gempa oleh sebab ini
memungkinkan terjadinya gelombang tsunami.
Dari hasil penyelidikan tentang ancaman
gempa di Palung Sunda, mengungkapkan bahwa setelah gempa dan tsunami
2004 di segmen Aceh, ancaman gempa terbesar di zona Palung Sunda adalah
pada kawasan segmen Mentawai (posisi 0.7 – 5.5 0 S). Catatan sejarah
gempa yang terjadi di kawasan ini, mengungkapkan bahwa gelinciran (slip)
pada saat terjadi gempa di bahagian utara segmen ini dapat melebihi 10
meter (dengan kelajuan convergence rata-rata 5 cm/tahun). Sedangkan
gelinciran di bagian selatan dapat mencapai maksimal 10 meter
Zona subduksi ini telah menyebabkan
terbentuknya jajaran pegunungan ‘Bukit Barisan’ di sepanjang Sumatra,
dari ujung utara di Aceh hingga ujung selatan di Lampung dengan puncak
tertinggi adalah G. Kerinci (3805 m di atas permukaan laut) yang
terletak di perbatasan Sumbar-Jambi . Bukit Barisan terbentuk oleh sebab
naiknya magma akibat pergeseran antara lempeng di zona subduksi.
Jajaran pegunungan ini telah menghasilkan pemandangan yang menarik.
Apabila kita datang dari Riau menuju Sumbar, maka kita akan memasuki
jajaran pegunungan ini melalui Rantau Berangin menuju Pangkalan dan
bersedia untuk melintasi pegunungan yang lebih tinggi sebelum menuruni
lereng curam yang dibuat berkelok-kelok, disebut sebagai “Kelok
Sembilan” untuk menuju lembah Limapuluh kota. Jajaran
pegunungan ini terbentuk oleh pergeseran antar lempeng di zona
subduksi, sehingga menyebabkan naiknya magma dan membentuk jajaran
pegunungan.
2). Patahan/sesar besar Sumatra atau disebut juga dengan Sesar Semangko,
memanjang di sepanjang Pulau Sumatra, mulai dari ujung Aceh hingga
Selat Sunda, dengan bidang vertikal dan pergerakan lateral mengkanan (dextral-strike slip).
Sesar ini menyebabkan terjadinya gempa di darat oleh sebab pelepasan
energi di sesar/patahan Semangko apabila sesar tersebut teraktifkan
kembali (peristiwa reaktivasi sesar) dengan bergesernya lapisan batuan
di sekitar zona sesar tersebut. Pergerakan sesar yang merupakan salah
satu sesar teraktif di dunia ini diyakini disebabkan oleh desakan
lempeng India-Australia ke dalam lempeng Eurasia. Bagian barat sesar ini
bergerak ke utara dan bagian timur bergerak ke selatan. Jika lama tidak
terjadi gempa besar, artinya sedang terjadi pengumpulan energi di
patahan tersebut. Di sepanjang Patahan Sumatera ini terdapat pula ribuan
patahan kecil yang juga dapat mengakibatkan rawan gempa. Seperti halnya
gempa asal laut, gempa darat di Sumatera biasanya juga cukup besar dan
menyebabkan kerusakan yang cukup parah. Model gempa di Patahan Sumatra
kawasan Sumbar dapat dilihat pada Gambar di atas.
Di Sumbar, Sesar Semangko ini dapat
dilihat dengan wujudnya suatu bentang alam yang indah dan langka terjadi
di dunia, yaitu ‘Ngarai Sianok’ . Lembah dengan
dinding curam berkedalaman sekitar 100 m, memanjang sekitar 15 km, dan
lebar sekitar 200 m ini terletak di Bukittinggi dan merupakan bagian
dari Sesar Sumatra.
Maka tak heran kenapa wilayah Sumatera Barat kerap diguncang Gempa yang berasal dari Samudera maupun daratan.
0 comments:
Post a Comment